A. Pengertian
Karya Ilmiah
Karya Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis
berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Karya ilmiah
juga biasa disebut karangan ilmiah. Menurut Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah
karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog
penulisan yang baik dan benar.
Karya tulis adalah karya ilmiah berisi ringkasan
atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah
yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya. Tujuan pembuatan karya tulis
adalah melatih mahasiswa.
Ciri-ciri
Karya Ilmiah
Dalam karya ilmiah ada 4 aspek
yang menjadi karakteristik utamanya, yaitu :
1. Struktur sajian
Struktur sajian karya ilmiah
sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti
(pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke
bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin
disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup
merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak
lanjut gagasan tersebut.
2. Komponen dan substansi
Komponen karya ilmiah
bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung
pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang
dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
3. Sikap penulis
Sikap penulis dalam karya
ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa
impersPonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata
ganti orang pertama atau kedua.
4. Penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan dalam
karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan
kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
B. Jenis-Jenis
Karya Ilmiah
Sesuai dengan cirinya yang
tertulis tadi, maka karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah
(dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan
disertasi, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan
ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah
tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan
penelitian atau pengkajian selanjutnya. Adapun jenis Karya Ilmiah adalah,
1. MAKALAH
Menurut bahasa, makalah
berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan. Makalah adalah karya tulis (ilmiah)
paling sederhana.
Makalah, adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan atau menyajikan suatu masalah, sebagai hasil penelitian data di lapangan yang bersifat empiris-objektif atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa dan aturannya tidak seketad makalah para ahli karena bisa jadi dibuat berdasarkan hasil bacaan dan kemudian dengan tarikan teoritis; menggabungkan cara pikir deduktif-induktif atau sebaliknya.
Makalah, adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan atau menyajikan suatu masalah, sebagai hasil penelitian data di lapangan yang bersifat empiris-objektif atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa dan aturannya tidak seketad makalah para ahli karena bisa jadi dibuat berdasarkan hasil bacaan dan kemudian dengan tarikan teoritis; menggabungkan cara pikir deduktif-induktif atau sebaliknya.
2. KERTAS KERJA
Kertas kerja adalah makalah
yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam
lokakarya. Kertas kerja pada prinsipnya sama dengan makalah. Kertas
kerja dibuat dengan analisis lebih dalam dan tajam. Kertas kerja ditulis untuk
dipresentasikan pada seminar atau lokakarya, yang biasanya dihadiri oleh
ilmuwan. Pada ‘perhelatan ilmiah’ tersebut, kertas kerja dijadikan acuan untuk
tujuan tertentu. Bisa jadi, kertas kerja ‘dimentahkan’ karena lemah, baik dari
susut analisis rasional, empiris, ketepatan masalah, analisis, kesimpulan, atau
kemanfaatannya.
3. SKRIPSI
Skripsi adalah karya tulis
ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain dimana
karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, didukung data
dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung; observasi
lapangan atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan dan
dipertahankan di depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian
studi tingkat Strata Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana. Bobotnya
6 satuan kredit semster (SKS) dan dalam pengerjakannya dibantu dosen
pembimbing. Dosen pembimbing berperan ‘mengawal’ dari awal sampai akhir hingga
mahasiswa mampu mengerjakan dan mempertahankannya pada ujian skripsi. Skripsi
menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi ke arah sumbangan material
berupa penemuan baru.
4. TESIS
Tesis, adalah karya ilmiah
yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua
(S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar
Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah
tertentu dan memecahkannya secara analisis kristis. Karya tulis ilmiah ini
sifatnya lebih mendalam daripada skripsi. Mahasiswa melakukan penelitian
mandiri, menguji satu atau lebih hipotesis dalam mengungkapkan ‘pengetahuan
baru’.
Tesis atau Master Thesis
ditulis bersandar pada metodologi; metodologi penelitian dan metodologi
penulisan. Standarnya digantungkan pada institusi, terutama pembimbing. Dengan
bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah), melaksanakan; menggunakan
instrumen, mengumpulkan dan menjajikan data, menganalisis, sampai mengambil
kesimpulan dan rekomendasi.
Dalam penulisannya dituntut
kemampuan dalam menggunakan istilah tehnis; dari istilah sampai tabel, dari
abstrak sampai bibliografi. Artinya, kemampuan mandiri —sekalipun dipandu dosen
pembimbing— menjadi hal sangat mendasar. Sekalipun pada dasarnya sama dengan
skripsi, tesis lebih dalam, tajam, dan dilakukan mandiri.
5. DISERTASI
Pencapaian gelar akademik
tertinggi adalah predikat Doktor. Gelar Doktor (Ph.D) dimungkinkan manakala
mahasiswa (S3) telah mempertahankan disertasi dihadapan Dewan Penguji
Disertasi yang terdiri dari profesor atau Doktor dibidang masing-masing.
Disertasi adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada
tingkat Strata Tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidang ujian promosi untuk
memperoleh gelar Doktor (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analitis kritis,
dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ditekuni
oleh mahasiswa yang bersangkutan, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner
yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang berimplikasi filosofis dan mencakup
beberapa bidang ilmiah. Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan)
orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan
fakta valid dengan analisis terinci. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa
bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikikir abstrak serta
menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru,
pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai
cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.
6.
ARTIKEL
Artikel, merupakan karya tulis
lengkap, seperti laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan
sebagainya. Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa,
yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat
secara lugas.
Artikel merupakan: karya tulis atau karangan; karangan nonfiksi; karangan yang tak tentu panjangnya; karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur; sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya; wujud karangan berupa berita.
Artikel mempunyai dua arti: (1) barang, benda, pasal dalam undang- undang dasar atau anggaran dasar; (2) karangan, tulisan yang ada dalam surat kabar, majalah, dan sebagainya. Tetapi, kita akan lebih jelas lagi dengan penguraian Webster`s Dictionary yang mengartikan bahwa artikel adalah a literary compositon in a journal (suatu komposisi atau susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa). Sejak tahun 1980 para jurnalis Amerika sepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.
7. ESAI
Esai, adalah
ekspresi tertulis dari opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika
penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan
perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu
mengekspresikan opini, dengan kata lain semuanya akan menunjukkan sebuah opini
pribadi (opini penulis) sebagai analisa akhir. Perbedaannya dengan tulisan yang
lain, sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan
sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman
tersebut. Jadi intinya kita harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai.
8. OPINI
Opini,
adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak
atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau
mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang;
penilaian
9.
FIKSI
Fiksi, satu
ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan.
Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat
sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dan
sebagainya adalah hal-hal penting yang
memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data)
yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan
kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah ‘kebenaran’ yang bisa
digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya.
Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga
memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang
terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya
multi interpretasi makna. Para pendukung tulisan fiksi meliputi: novelis,
cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalam golongan
ini.
karya ilmiah ada dua jenis, yaitu :
a)
Karangan
ilmiah, yaitu salah satu jenis karangan yang berisi serangkaian hasil pemikiran
yang diperoleh sesuai dengan sifat
keilmuannya.
b)
Laporan
ilmiah, yaitu suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan,atau
gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan
dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan
suatu karangan.. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang
diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan
ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah
sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan telnologi
yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam
kesempatan tertentu.
C. STRUKTUR TULISAN ILMIAH
Secara garis besar, susunan/struktur
Penulisan Ilmiah adalah sebagai berikut :
1.
Bagian Awal
2.
Pendahuluan
3.
Tinjauan Pustaka / Landasan
Teori.
4.
Hasil Penelitian dan
Analisa
5.
Kesimpulan (&
Saran)
6.
Bagian akhir
a.
Bagian Awal
Bagian Awal, terdiri atas :
Ø Halaman
Judul
Ditulis sesuai dengan cover depan
Penulisan Ilmiah standar Universitas Gunadarma.
Ø Lembar
Pengesahan
Dituliskan Judul PI, Nama, NPM,
NIRM, Tanggal Sidang, Tanggal Lulus, dan tanda tangan pembimbing, koordinator
PI, serta Ketua Jurusan.
Ø Abstraksi
Berisi
ringkasan dari penulisan. Maksimal 1 halaman.
Ø Kata
Pengantar
Berisi ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang ikut berperan dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan
ilmiah (a.l. Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Pembimbing, Perusahaan).
·
Daftar
Tabel
·
Daftar
Gambar
Jika ada
·
Daftar
Lampiran
b.
Pendahuluan
Pendahuluan menguraikan pokok persoalan.
Terdiri dari :
Ø Latar
Belakang Masalah
Menguraikan mengapa penulis sampai
kepada pemilihan topik permasalahan yang bersangkutan.
Ø Masalah dan
Pembatasan Masalah
Memberikan batasan yang jelas
bagian mana dari persoalan yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
Ø Tujuan
Penulisan
Menggambarkan hasil-hasil yang
diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang
diteliti.
Ø Metode
Penelitian
Menjelaskan cara pelaksanaan
kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data dan cara analisa data.
Ø Jenis-Jenis
Metode Penelitian :
a)
Studi Pustaka
: Semua bahan diperoleh dari
buku-buku dan/atau jurnal.
b)
Studi Lapangan :
Data diambil langsung di lokasi penelitian.
c)
Gabungan
: Menggunakan gabungan kedua metode
di atas. (Bila penulis melakukan Praktek Kerja, laporan ditulis menurut format
penulisan ilmiah).
Ø Sistematika
Penulisan
Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari
Penulisan Ilmiah
c.
Landasan Teori (untuk yang melakukan penelitian)
Menguraikan teori-teori yang
menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan menunjukkan hasil
penelitian sebelumnya.
d.
Gambaran Umum (untuk yang melakukan penelitian / kerja
praktek)
Menguraikan secara singkat profil
tempat dilakukannya kerja praktek / penelitian. Dibuat bab sendiri (tidak
termasuk dalam landasan teori).
e.
Hasil Penelitian dan Analisa
Bagian ini dapat dipecah menjadi
beberapa bab.
Ø Hasil
Penelitian (Analisa Perusahaan)
Menguraikan hasil penelitian yang
mencakup semua aspek yang terkait dengan penelitian.
Ø Analisa dan
Pembahasan (Pembahasan)
Menjelaskan tentang keterkaitan
antar faktor-faktor dari data lapangan yang diperoleh dan membahas
masalah-masalah yang diajukan.
f.
Kesimpulan (dan Saran)
Bab ini bisa terdiri dari Kesimpulan
saja atau ditambahkan Saran.
Ø Kesimpulan
Berisi jawaban dari masalah yang diajukan
penulis, yang diperoleh dari penelitian.
Ø Saran
Ditujukan kepada pihak-pihak
terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.
g.
Bagian Akhir
Ø Daftar
Pustaka
Berisi daftar referensi (buku,
jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan.
Ø Daftar
Simbol
Berisi deretan simbol-simbol yang
digunakan di dalam penulisan, lengkap dengan keterangannya.
Ø Lampiran
Penjelasan tambahan, dapat berupa
uraian, program, gambar, perhitungan-perhitungan, grafik, atau tabel, yang
merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait
sebelumnya.
TEKNIK MENGUTIP
Kata pengutipan
berarti hal, cara, atau proses mengutip. Mengutip merupakan pekerjaan
mengambil atau memungut kutipan. Menurut Azahari (dalam Alam, 2005:38) “kutipan
merupakan bagian dari pernyataan, pendapat, buah pikiran, definisi, rumusan
atau penelitian dari penulis lain, atau penulis sendiri yang telah (menurut penulis
kata telah harus dihilangkan) terdokumentasi, serta dikutip untuk
dibahas dan ditelaah berkaitan dengan materi penulisan”. Batasan di atas tidak
hanya memaparkan hakikat kutipan, tetapi juga menjelaskan kepentingan mengutip,
yakni untuk dibahas dan ditelaah. Hal ini mengandung pengertian bahwa
pengutipan memiliki tujuan tertentu, bukan sekadar menambah jumlah paparan
penelitian.
Walaupun
penulis diperkenankan mengutip, bukan berarti tulisannya syarat dengan kutipan
(perhatikan pula Keraf, 2001: 179). Tulisan hasil penelitian haruslah merupakan
hasilgagasan asli penulisnya bukan kumpulan kutipan pendapat pihak lain. Jika
akan mengutip pertimbangkanlah jangan sering mengutip dengan cara langsung,
variasikan dengan cara tidak langsung. Kutipan seharusnyalah dapat
mengembangkan gagasan penelitian.
1.
Kaidah Pengutipan dalam Karya Tulis Ilmiah
Mengutip merupakan pekerjaan yang
dapat menunjukkan kredibilitas penulis. Oleh karena itu, mengutip harus
dilakukan secara teliti, cermat, dan bertanggung jawab. Hariwijaya dan Triton
(2011: 151) mengatakan bahwa ketika mengutip perlu dipelajari bagaimana teknik
pengutipan sesuai dengan standar ilmiah (penambahan kata dengan
oleh penulis). Untuk itu, perlu diperhatikan hal berikut: (1) mengutip sehemat-hematnya,
(2) mengutip jika dirasa sangat perlu semata-mata, dan (3) terlalu banyak
mengutip mengganggu kelancaran bahasa.
2.
Cara Mengutip
Ada dua cara atau sistem dalam
mengutip sumber sebagai rujukan, yaitu sistem catatan dan sistem langsung. Pada
sistem pertama identitas rujukan—nama penulis, tahun, dan halaman—tidak
ditampilkan langsung, sedangkan pada sistem kedua identitas tersebut
ditampilkan. Pada sistem pertama di akhir kutipan ditampilkan nomor berupa
angka Arab, yang ditulis agak ke atas dengan ukuran huruf lebih kecil (superscript).
Kemudian angka tersebut akan dirujukan kepada catatan kaki pada bagian bawah
halaman. Dalam sistem catatan ini dikenal sistem tradisional dan sistem Harvard
(Kalidjernih, 2010: 119). Pada sistem tardisional digunkan kata ibid, loc
cit, dan op cit untuk pengacuan rujukan sebelumnya, sedangkan dalam
sistem Harvard tidak demikian.
Dalam hal cara mengutip ini, banyak
sistem lain di samping dua sistem yang disebutkan di atas. Dalam makalah ini
hanya akan dipaparkan sistem mengutip yang pada umumnya digunakan di Indonesia.
Sistem ini pada pandangan penulis merupakan hasil kolaborasi atau kombinasi
beberapa sistem yang dikenal di dunia. Makalah ini pun hanya akan menyajikan
sistem pengutipan sumber dengan sistem langsung, sedangkan sistem catatan tidak
akan dijelaskan. Sistem langsung ini menampilkan nama penulis, tahun, dan
halaman atau penulis, tahun tanpa halaman.
Ada dua cara untuk mengutip, yaitu
mengutip langsung dan mengutip tidak langsung.
a.
Kutipan langsung merupakan salinan yang persis sama
dengan sumbernya tanpa penambahan (Widjono, 2005: 63), sedangkan kutipan tidak
langsung menyadur, mengambil ide dari suatu sumber dan menuliskannya sendiri
dengan kalimat atau bahasa sendiri (Widjono, 2005: 64).
1.
Kutipan Tidak Langsung
Cara melakukan kutipan tidak
langsung adalah sebagai berikut:
·
Menggunakan redaksi dari penulis sendiri (parafrasa);
·
Mencantumkan sumber (nama penulis, tahun, dan halaman)
Contoh1: Menurut salah satu historiografi tradisional,
penyerahan kekuasaan kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedanglarang
berlangsung melalui penyerahan mahkota emas raja Kerajaan Sunda Pajajaran
kep[da Prabu Geusan Ulun. Penyerahan mahkota secarasibolisbereti bahwa
Sumedanglarang menjadi penerus Kerajaan Sunda (Suryaningrat, 1983: 20—21 dan
30).
2.
Kutipan Langsung
Cara melakukan kutipan langsung
adalah sebagai berikut.
·
Jika kutipan empat baris atau kurang (langsung endek):
·
Dikutip apa adanya;
·
Diintegrasikan ke dalam teks paparan penulis;
·
Jarak baris kutipan dua spasi (sesuai dengan jarak
spasi paparan);
·
Dibubuhi tanda kutip (“….”);
·
Sertakan sumber kutipan di awal atau di akhir kutipan,
yakni nama penulis, tahun terbit, dan halaman sumber (PTH atau Author, Date,
Page (ADP), misalnya (Penulis, 2012:100).
·
Jika berbahasa lain (asing atau daerah), kutipan
ditulis dimiringkan (kursif);
·
Jika ada kesalahan tik pada kutipan, tambahkan kata sic
dalam kurung (sic) di kanan kata yang salah tadi;
·
Jika ada bagian kalimat yang dihilangkan, ganti bagian
itu dengan tanda titik sebanyak tiga biah jika yang dihilangakan itu ada di
awal atau di tengah kutipan, dan empat titik jika di bagian akhir kalimat;
·
Jika ada penambahan komentar, tulis komentar tersebut
di antara tandakurung, nislnya, (penggarisbawahan oleh penulis).
Contoh 2:
Ada beberapa pendapat mengenai hal
itu. Suryaningrat (1983: 20—21 dan 30) mengatakan, “Menurut salah satu
historiografi tradisional, penyerahan kekuasaan kerajaan Pajajaran kepada
Kerajaan Sumedanglarang berlangsung melalui penyerahan mahkota emas raja
Kerajaan Sunda Pajajaran kep[da Prabu Geusan Ulun. Penyerahan mahkota secara
simbolis berarti bahwa Sumedanglarang menjadi penerus Kerajaan Sunda,”
Lebih dari Empat Baris
(Langsung Panjang):
·
Dikutip apa adanya;
·
Dipisahkan dari teks paparan penulis dalam format
paragraf di bawah paparan penulis;
·
Jarak baris kutipan satu spasi;
·
Sertakan sumber kutipan di awal atau di akhir kutipan,
yakni nama penulis, tahun terbit, dan halaman sumber, misalnya (Penulis,
2012:100).
·
Jika berbahasa lain (asing atau daerah), kutipan
ditulis dimiringkan.
Contoh 3:
Mengenai pentingnya penelitian di lokasi tersebut
Triwurjani dkk. (1993: 7—43) mengatakan sebagai berikut:
Penelitian secara lebih intensif di kawasan Danau
Ranau pada tahun-tahun sesudahnya masih dilakukan, yaitu pada tahun 1993 tim
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional kembali melakukan penelitian berupa survei
pada situs-situs di kawasan Danau Ranau, baik yang secara adminstratif berada
di Kabupaten Lampung Barat maupun Kabupaten OKU (Ogan Komering Ulu), Provinsi Sumatera
Selatan. Penelitian yang dilakukan menunjukkan temuan-temuan arkeologis dari
beberapa situs yang diperoleh memiliki ciri prasejarah hingga klasik.
3.
Kutipan pada catatan kaki
Kutipan selalu ditempatkan pada
spasi rapat, meskipun kutipan itu singkat saja. Kutipan diberi tanda kutip,
dikutip seperti dalam teks asli.
4.
Kutipan atas ucapan lisan
Kutipan harus dilegalisir dulu oleh
pembicara atau sekretarisnya (bila pembicara seorang pejabat). Dapat dimasukkan
ke dalam teks sebagai kutipan langsung atau kutipan tidak langsung.
5.
Kutipan dalam kutipan
Kadang-kadang terjadi bahwa dalam kutipan terdapat
lagi kutipan.
F. TEKNIK DAFTAR PUSTAKA
Dalam penulisan daftar pustaka kita
juga harus memperhatikan hal-hal berikut ini.
·
Daftar pustaka disusun berdasarkan urutan alfabet,
berturut-turut dari atas ke bawah, tanpa menggunakan angka arab (1,2,3, dan
seterusnya).
·
Cara penulisan daftar pustaka sebagai berikut:
Ø Tulis nama
pengarang (nama pengarang bagian belakang ditulis terlebih dahulu, baru nama
depan)
Ø Tulislah
tahun terbit buku. Setelah tahun terbit diberi tanda titik (.)
Ø Tulislah
judul buku (dengan diberi garis bawah atau cetak miring). Setelah judul buku
diberi tanda titik (.).
Ø Tulislah
kota terbit dan nama penerbitnya. Diantara kedua bagian itu diberi tanda titik
dua (:). Setelah nama penerbit diberi tanda titik
Ø Apabila
digunakan dua sumber pustaka atau lebih yang sama pengarangnya, maka sumber
dirilis dari buku yang lebih dahulu terbit, baru buku yang terbit kemudian. Di
antara kedua sumber pustaka itu dibutuhkan tanda garis panjang.
·
Untuk penulisan daftar pustaka yang berasal dari
internet ada beberapa rumusan pendapat :
Ø Menurut
Sophia (2002), komponen suatu bibliografi online adalah:
• Nama Pengarang
• Nama Pengarang
• Tanggal revisi terakhhir
• Judul Makalah
• Media yang memuat
• URL yang terdiri dari
protocol/situs/path/file
• Tanggal akses. – Menurut
Winarko memberikan rumusan pencantuman bibliografi online di daftar pustaka
sebagai berikut: Artikel jurnal dari internet: Majalah/Jurnal Online
Penulis, tahun, judul artikel, nama majalah (dengan singkatanresminya), nomor, volume, halaman dan alamat website.*) Nama majalah online harus ditulis miring
Penulis, tahun, judul artikel, nama majalah (dengan singkatanresminya), nomor, volume, halaman dan alamat website.*) Nama majalah online harus ditulis miring
Artikel umum dari internet dengan
nama
Penulis, tahun, judul artikel, [jenis media], alamat website (diakses tanggal …).*) Judul artikel harus ditulis miring.
Penulis, tahun, judul artikel, [jenis media], alamat website (diakses tanggal …).*) Judul artikel harus ditulis miring.
·
Artikel umum dari internet tanpa nama
Anonim, tahun, judul artikel, [jenis media], alamat website (diakses tanggal …).*) “Anonim” dapat diganti dengan “_____”. Judul artikel harus ditulis miring.
Anonim, tahun, judul artikel, [jenis media], alamat website (diakses tanggal …).*) “Anonim” dapat diganti dengan “_____”. Judul artikel harus ditulis miring.
SEMOGA BERMANFAAT :)